Apa yang ingin aku himbau kepada seluruh pemegang Kartu Pemilih Calon Anggota Legislatif dan Calon Presiden kali ini ?

Himbauan sekaligus seruan agar Semua Penduduk Republik Indonesia yang telah memiliki Kartu Pemilih menggunakan Hak Suara-nya dalam Pemilihan Anggota Legislatif maupun Pemilihan Presiden 2009.

Negara terbentuk karena ada Tanah Air dan Bangsa yang hidup dalam Tanah Air-nya sendiri-sendiri. Penduduk yang tinggal dalam suatu daratan dan lautan yang membentuk Tanah Airnya membuat suatu tatanan agar tercipta suatu keteraturan untuk hidup bersama-sama dalam suatu masyarakat dengan segala kegiatannya.

Namanya saja bersama-sama membuat tatanan, jadi tentunya semua penduduk yang tinggal dalam suatu area tertentu berhak dan berkewajiban untuk memberikan kontribusi atau “urun rembug” dalam masyarakatnya untuk membentuk suatu kelompok yang memimpin dan menasehati satu sama lain agar tertata rapi.

Apabila ada yang membiarkan terserah jadi apa tatanan masyarakat itu terbentuk, dengan tidak memberikan pendapat, opini atau dukungan, maka seseorang tersebut adalah seseorang yang tidak memiliki kepedulian terhadap sesama maupun keturunannya dalam jangka panjang. Apabila kegiatan masyarakat tersebut berjalan dan dia tidak perduli maka seolah dia akan menjawab “ yo embuh yo, dudu aku sing ngatur” dan semakin lama dia akan semakin apatis.

Yang paling mirip adalah adalah pada sikap “gol-put” atau “golongan putih” yang secara sederhana adalah golongan orang-orang yang tidak menampakkan kepedulian pada perilaku politiknya. Dia tidak memilih warna merah, hijau, kuning, hitam, biru, oranye atau warna bendera partai politik. Rasanya bagi yang bersangkutan, itulah sikap yang benar.

Lha kalau menurut aku, teman-temanku ini adalah orang-orang yang melakukan “pembiaran”. Biar aja, kata teman-temanku itu. Biar saja nasib bangsaku, nasib negeriku, nasib saudara-saudaraku terombang-ambing tanpa arah, yang bertanggung jawab ‘kan bukan aku.

Andai pada saat ini aku ditanya apa yang patut diserukan agar “melakukan pembiaran” ini tidak berlarut-larut?

Bismilahir rahmaanir rahiim, semoga teman-temanku sadar, bahwa hak suaranya meskipun hanya satu, ibaratnya suara seorang profesor sama dengan seorang pemulung, tapi si profesor memiliki kemampuan lebih untuk mempengaruhi orang agar menggunakan hak suaranya. Pengaruhnya bisa sebesar jumlah keluarganya, bisa sebesar jumlah kerabatnya, bisa sebesar jumlah mahasiswanya di universitasnya, bisa sebesar jumlah orang-orang dalam organisasi yang dipimpinnya. Bukankah satu derajat dalam busur derajat di pangkal sudutnya memang tidak kentara, tetapi pada akhir garisnya, semakin panjang semakin besar lingkup pengaruhnya?

Demikian juga orang-orang dengan derajat, kekuatan, kekayaan dan kemampuan yang tinggi, analog dengan daya pencapaian pengaruh dari si profesor.

Bukankah ini merupakan suatu “race of influencing people” – lomba kekuatan daya pengaruh yang apabila dalam hirarki Maslow sudah dalam tingkat yang tinggi?

Itulah pendapatku, semoga Allah swt. Meridhoi niatku dan semoga pendukungku di Jakarta Timur (DAPIL 1 Jakarta) cukup besar dalam memberikan suara kepadaku sehingga aku bisa memperoleh suara terbanyak ( atau dulu minimal 30% dari bilangan pembagi pemilih – BPP) sehingga KPU meloloskanku ke DPR RI di Senayan dan Partaiku ; PDI Perjuangan – pun yakin bahwa aku kader yang cukup berkualitas dan berdedikasi tinggi.

Terima kasih,
MERDEKA DAN SUKSES !

Advertisements