Apa yang ingin aku ceritakan kali ini ?

Di masa kecilku, televisi masih sangat langka. Cerita komik lebih banyak mendominasi hari-hari bermain yang panjang. Silaturahmi langsung lebih banyak dilakukan dan cerita wayang masuk begitu saja ke dalam otakku yang kecil.

Namanya saja dongeng, jadi tentunya apa yang diceritakan ini merupakan fiksi yang didasari cerita wayang kuno yang sudah punya pakem. Pakem artinya alur cerita yang sudah baku – harus seperti itu. Cuma karena ini sudah melewati masa reformasi, maka pakemnya sudah banyak terlupakan.

Ceritanya mengenai Tanah Jawa dan Tanah Sabrang. Jamannya namanya Kolobendu. Menurut apa yang masih nempel di otakku sekarang sebagai sisa-sisa dongeng yang terserap pada masa itu, inilah cerita dan logika dari Jaman Kolobendu itu. Kepada seluruh pembaca, kalau ada yang salah atau kurang atau kelebihan, tolong berikan koreksi, karena apa yang aku tuliskan ini tujuannya berbagi dan saling mengisi.

Yang paling mirip adalah bahwa pada Jaman Kolobendu itu, Tanah Jawa dan seluruh penduduknya termasuk wilayah hutan dan sungai-sungainya “di-untal” atau artinya dalam bahasa Indonesia dimakan bulat-bulat oleh Batara Kala yang berasal dari Tanah Sabrang. Di dalam kegelapan itu yang menurut cerita belum masuk ke perut Sang Batara, terjadi banyak masalah yang berat, seiring dengan nafas dan kegiatan yang dilakukan oleh Sang Batara. Coba bayangkan, kalau Sang Batara sedang berdiri, Tanah Jawa ini stabil dan rata kalau dicek dengan timbangan air. Kalau Sang Batara lagi tidur, Tanah Jawa ini ya miring 90 derajat. Kalau Sang Batara lagi minum manis, wah, tersiram dengan sirup manis sampai “mblenger”. Lha kalau Sang Batara sedang minum obat – ya rasa pahit yang terasa.

Lha kalau Sang Batara sedang “glegekan” atau bersendawa, wah, semua rasa asam akan tumpah ruah di Tanah Jawa.
Ini semua karena Tanah Jawa sedang dalam ujian berat. Sejak “diuntal” atau yang lebih ekstrim lagi istilahnya “diuntal malang” artinya dimakan sekaligus dengan sisi yang panjangnya kalau Tanah Jawa punya panjang dan lebar, maka seolah-olah seluruh ujian dan cobaan tidak putus-putusnya menimpa Tanah Jawa.

Andai pada saat ini aku ditanya siapa yang bisa menolong Tanah Jawa ini dari cobaan dan ujian yang sedang dialami? Maka jawabanku adalah sebagai berikut.

Bismilahir rahmaanir rahiim, semoga tidak ada yang marah kepada saya karena ber-opini ria tentang Jaman Kolobendu ini. Kalau sedang dalam keadaan kena kutukan atau dalam sumpah yang maha berat, tentunya harus ada seseorang yang paling tinggi tingkatnya di Tanah Jawa ini yang bisa “ngluwari bebenduning” Sang Batara Kala, yaitu seorang Raja.

Raja-nya siapa? Ya Raja-nya Tanah Jawa. Tolong Sang Raja Jawa, “luwari” keadaan Tanah Jawa yang sudah “diuntal malang” ini. Semoga Allah swt. meridhoi Sampeyan Dalem untuk membuat terang Tanah Jawa seisinya sehingga bisa melihat lagi matahari yang terang dan bulan yang indah temaram. Semoga.

Itulah dongengku, semoga Allah swt. Meridhoi niatku dan semoga pendukungku di Jakarta Timur (DAPIL 1 Jakarta) cukup besar dalam memberikan suara kepadaku sehingga aku bisa memperoleh suara terbanyak ( atau dulu minimal 30% dari bilangan pembagi pemilih – BPP) sehingga KPU meloloskanku ke DPR RI di Senayan dan Partaiku ; PDI Perjuangan – pun yakin bahwa aku kader yang cukup berkualitas dan berdedikasi tinggi.

Terima kasih,
MERDEKA DAN SUKSES !

Advertisements